6 Hal Dugaan Dan Nama-nama Terduga Kudeta di Partai Demokrat

6 Hal Dugaan Dan Nama-nama Terduga Kudeta di Partai Demokrat

6 Hal Dugaan Dan Nama-nama Terduga Kudeta di Partai Demokrat – Partai Demokrat saat ini diguncang oleh perebutan kepemimpinan. Kabar tersebut disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Argus Harimudi Yudhoyono (AHY).

6 Hal Dugaan Dan Nama-nama Terduga Kudeta di Partai Demokrat

Sumber : cnnindonesia.com

artscouncilofneworleans – AHY menyebut ada beberapa gerakan politik yang membuat pengurus partai tidak konstitusional. AHY mengatakan dalam pidato politik Partai Progresif Demokratik di Jakarta, Senin: “Ada gerakan politik yang mengarah pada upaya untuk mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, mengancam kedaulatan dan eksistensi Partai Demokrat. ”

Menurut AHY, gerakan ini melibatkan kalangan pejabat dari Joko Widodo atau Presiden Jokowi.  Berikut beberapa Dugaan Dan Nama-nama Terduga Kudeta di Partai Demokrat .

  • Berasal dari kesaksian kader

AHY memperoleh informasi tentang pergulatan kepemimpinan dari kesaksian banyak kader baik di pusat, daerah maupun cabang. Ia mengatakan, sejumlah kecil kader dan mantan kader Partai Demokrat telah melakukan manuver dan secara sistematis mengikuti partai eksternal.

AHY menyebut ada lima pelaku gerakan ini. Salah satunya adalah kader aktif, satu kader tidak aktif selama 6 tahun, dan satu lagi mantan kader yang sudah 9 tahun dipermalukan karena korupsi.

Kemudian ada seorang kader yang keluar tiga tahun lalu, dan seorang non-kader yang merupakan pejabat senior pemerintah. AHY menuturkan, undangan dan permintaan dukungan pergantian paksa dari Ketua Umum Partai Demokrat dilakukan melalui telepon atau pertemuan langsung.

Baca juga : Deretan Kasus Pemerkosaan Massal Di India

  • Seret nama Moeldoko

Politisi Demokrat Rachland Nashidik mengungkapkan nama Kepala Staf Moeldoko saat memperebutkan kepemimpinan Demokrat. Ia mengatakan, tujuan Moeldoko menjadi presiden dari Partai Demokrat karena ingin mencalonkan diri sebagai calon presiden pada 2024.

Menurut laporan yang mewajibkan kader senior Demokrat untuk bertemu langsung, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan bahwa tujuan pengambilalihan jabatan PD Ketum itu untuk digunakan sebagai cara atau alat kampanye Moeldoko. Menjadi calon presiden di DPR Pemilu 2024 mendatang, “kata Rahland De.

AHY menyatakan partai telah mengirimkan surat kepada Presiden Jokovy. Pihak tersebut berharap mendapatkan konfirmasi dan klarifikasi tentang keaslian informasi yang diterima.

  • Kepentingan 2024

Agus Harimurti Yudhoyono (Agus Harimurti Yudhoyono) dan Rachland (Rachland) mengatakan, perebutan kepemimpinan terkait dengan pemilihan presiden 2024.

AHY mengatakan: “Pengambilalihan posisi Partai Demokrat akan digunakan sebagai alat bagi orang-orang terkait sebagai calon pada pemilu 2024 mendatang.

  • Targetkan 360 pemegang suara

AHY mengungkapkan, pelaku memilih mengganti secara paksa konsep Ketum Partai Demokrat dan rencananya akan menggelar kongres khusus. AHY mengatakan, menurut saksi, pelaku kampanye menargetkan 360 pemilih yang bisa diundang dan dipengaruhi dengan imbalan uang yang banyak.

Dia mengatakan: “Pelaku yakin kampanye ini akan berhasil karena mereka mengklaim mendapat dukungan dari beberapa pejabat tinggi negara lainnya.”

  • Sudah tercium selama sebulan

AHY mengaku sudah menghasut gerakan politik ini sejak sebulan lalu. Awalnya, dia mengira ini hanya masalah internal kecil. Namun, sejak pekan lalu dilaporkan ada pihak luar di dalam pemerintahan Jokowi yang turun tangan, AHY melakukan investigasi mendalam.

AHY mengatakan, melihat posisi dan latar belakangnya, ketika seorang reporter menyebut nama tokoh yang akan menjabat sebagai Pimpinan Partai Demokrat, ia tidak hanya mulai mempercayainya. Dia berkata: “Tetapi ada lebih dari delapan saksi yang mengatakan bahwa mereka telah bertemu langsung dengan pejabat pemerintah dan secara pribadi telah mendengar tentang rencana yang saya komunikasikan sebelumnya.”

  • Imbalan Rp 100 juta

Rachland Nashidik mengatakan, partisipan gerakan yang ingin menjadi ketua umum partai berjanji akan membayar 100 juta rupiah untuk kepala daerah. Besaran masing-masing ketua DPC Partai Demokrat adalah 100 juta rupiah, dan besaran yang dibayarkan dimuka 25-30 juta rupiah, atau mereka menandatangani uang untuk mendukung Modko sebagai ketua umum Partai Demokrat.

Pada saat yang sama, sisa dana akan dibayarkan setelah kongres khusus (KLB) berakhir dan Moeldoko mengukuhkan ketua baru Partai Demokrat. Rahlan mengaku belum tahu dari mana mendapatkan uang sebesar itu. Dia berkata: “Kami tidak tahu apakah akan ada distributor besar yang mendanai olahraga ini.”

Moeldoko membantah tudingan dirinya sebagai bagian dari upaya menggulingkan pemimpin Demokrat itu. Dia mengatakan bahwa sejauh ini yang dia lakukan adalah menerima banyak wawancara.

Moeldoko mengatakan, kunjungan banyak orang adalah hal biasa. Selain itu, ia juga menyebut statusnya sebagai pensiunan jenderal TNI yang merupakan mantan Panglima TNI.

Moeldoko membantah isu kudeta Demokrat dan berkata: “Mereka ada liku-liku, ya, kami terima. Saya tidak tahu latar belakangnya. Dari percakapan ini, saya biasanya memulai dengan pertanian karena saya suka pertanian.”

Nama yang Dituduh Gerakkan Kudeta di Partai Demokrat

Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Argus Harimurti Yudhoyono (AHY) melancarkan kudeta dengan harapan bisa menjatuhkan diri dari parpol dengan tanda-tanda belas kasihan. Dari Marzuki Alie hingga Nazaruddin, kini terungkap nama-nama tersangka.

Baca juga : 10 Fakta Kudeta Di Myanmar

1. Marzuki Alie

Sumber : nasional.kompas.com

Marzuki Alie menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Senior dan Sekretaris Jenderal PD. Marzuki juga menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional Indonesia dari tahun 2009 hingga 2014. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden keenam Republik Indonesia saat itu, menjabat sebagai ketua umum PD.

Selama periode 2015-2020 yang dipimpin SBY, Marzuki Alie tidak termasuk dalam jajaran pimpinan PD. Marzuki merasa PD tidak lagi membutuhkannya.

“Tidak dibutuhkan lagi,” kata Marzuki saat ditanya tanggapannya usai meninggalkan manajemen PD, Sabtu (4/7/2015).

Dalam kepengurusan PD Ketum periode 2020-2025 pimpinan AHY, nama Marzuki tidak masuk dalam daftar pengurus PD.

Marzuki Alie membantah tuduhan keterlibatannya dalam kudeta tersebut. “Kalau orang ribut. Ya wujudkan saja. Buktikan saja. Kalau merasakannya pasti akan saya jawab seperti itu. Saya kira saya tidak tahu apa-apa, kenapa harus saya jawab.”, Kata Marzuki Alie.

2. Muhammad Nazaruddin

Sumber : facebook.com

PD Elite juga menyebut nama Muhammad Nazaruddin (Muhammad Nazaruddin) karena ikut serta dalam kudeta Ketum AHY. Nazarudin bukan orang asing di organisasi PD.

Nazaruddin menjabat sebagai ketua departemen PD dari tahun 2010 sampai 2015, saat PD diketuai oleh Anas Urbaningrum. Namun, Nazaruddin kemudian diberhentikan sebagai petugas PD karena terlibat kasus korupsi di rumah atlet tersebut.

Nazaruddin kini resmi bebas dari kasus korupsi murni. Nazaruddin mengucapkan terima kasih atas kebebasannya.

“Bagi saya ini adalah perjalanan yang harus saya jalani, pastikan saya bersyukur kepada Alhamdulillah. Semua ini ada hikmahnya, dan ke depannya saya akan lebih fokus bagaimana mencapai akhirat,” kata Nazaruddin dari Babas. Bandung. Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung.

3. Darmizal

Sumber : tribunnews.com

Kemudian, nama Damizal juga jatuh ke pusaran kudeta PD. Darmizal adalah mantan PD Wasekjen dan saat ini bukan petugas PD.

Damizal mengatakan pada 2018 bahwa dia telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil ketua Komite Pengawas Demokrat. Kemudian ia menjadi ketua Relawan Jokowi (ReJO).

Keputusan mundur itu disampaikan Damizal dalam pernyataannya kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Dewan Tinggi Demokrat. Surat itu juga ditandatangani Damizal di atas prangko Rp6.000.

Alasan Darmizal mundur adalah karena dia adalah ketua ReJO. Dia mengatakan dalam surat itu bahwa dia tidak ingin posisi baru itu mengganggu Demokrat.

4. Jhoni Allen Marbun

Sumber : nasional.kompas.com

Dikatakan, anggota panitia V DPR RI Rioni Allen Maben juga ikut serta dalam kudeta pimpinan AHY terhadap PD. Jhoni Allen Marbun adalah kader aktif PD.

Sebelum lolos ke kubu PD, ia mencalonkan diri sebagai Presiden Yokowi pada Pilpres 2019.

Pada Rabu (15/5/2019), Jonny mengatakan ketika mulai mengomentari kepemimpinan nasional: “Saya melihatnya dalam konteks kepemimpinan nasional. Kalau kepemimpinan nasional diganggu, negara ini juga akan diganggu.”

5. Moeldoko

Sumber : netral.news

Ketua Umum PD Bappilu Andi Arief mengatakan, Jenderal Mordoko (belakangan) ikut serta dalam kudeta Demokrat. Moeldoko saat ini menjabat sebagai Direktur Kantor Presiden.

Selain itu, Moeldoko menjabat sebagai Panglima TNI dari tahun 2013-2015. Moldco diangkat SBY sebagai Panglima TNI, lalu Kepala PD.

Soal kudeta, Moeldoko dengan tegas membantah dan meminta Presiden Yokowi tidak ikut dalam masalah ini. Dia bahkan menjawab meminta AHY untuk tidak bahagia.

Moeldoko mengatakan pada konferensi pers virtual, Senin (1/2/2021): “Saran saya, pemimpin harus menjadi pemimpin yang kuat. Jangan mudah frustrasi, jangan mudah mengayun.”